Sehelai Benang Merajut Hidup

0
175 views

175 views
“ Rp 15.000 Itu Sangat Berarti “
Oleh Herawati Munthe

MONALISA |- Permasalahan yang di hadapi oleh Negara Indonesia adalah kemiskinan. Dari tahun ketahun masalah ini terus menerus belum dapat terselesaikan. Apalagi sejak krisis ekonomi tahun 1997. Kemiskinan seringkali dipahami sebagai gejala rendahnya tingkat kesejahteraan cuma-cuma, padahal kemiskinan adalah masalah yang kompleks yang harus dapat terselesaikan. Rendahnya tingkat kehidupan yang sering menjadi tolak ukur kemiskinan, banyaknya pengangguran yang sangat terlihat oleh mata.

Beban kemiskinan paling besar terletak pada kelompok tertentu. Kaum perempuan pada umumnya, perempuan yang menanggung beban hidup karena menggantungkan nasibnya kepada seorang laki-laki ataupun tanggungan orangtuanya. Akibatnya kualitas dari segi ekonomi dan pendidikan sangat rendah.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah selama ini untuk memberikan peluang pada masyarakat miskin untuk mengurangi kemiskinan. Kemiskinan terjadi akibatnya banyaknya jumlah orang dalam 1 keluarga, ekonominya kurang baik, lapangan kerja yang masih kurang, pendidikan yang rendah, dan kurangnya keterampilan.

Salah satu upaya tersebut adalah melalui pendekatan pemberdayaan keluarga yang mengacu pada UU no.10 tahun 1992 tentang perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera yang pelaksanannya diatur dalam impres no 3 tahun 1996 tentang pembangunan Keluarga sejahtera dalam rangka peningkatan penanggulangan kemiskinan.

Permasalahan kemiskinan merupakan permasalahan yang kompleks dan bersifat multidimensional, Oleh karena itu, upaya pengentasan kemiskinan harus dilakukan secara komprehensif, mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan dilaksanakan secara terpadu.

Banyak factor yang menyebabkan terjadinya kemiskinan, antara lain kemiskinan bisa dikatakan sebagai kekurangan materi seperti kebutuhan sehari-hari, sandang, pangan.sedikitnya lapangan pekerjaan yang menyebabkan pengangguran yang berpengaruh terhadap kemiskinan.

Dalam upaya penanggulangan kemiskinan ada dua strategi utama yang harus ditempuh oleh pemerintah. Pertama, melindungi keluarga dan kelompok masyarakat miskin melalui pemenuhan kebutuhan pokok mereka. Kedua, memberdayakan mereka agar mempunyai kemampuan untuk melakukan usaha dan mencegah terjadinya kemiskinan baru.

Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia terkhusus di Kabupaten Simalungun. Pertama, program- program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin.

Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan.

Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen.Di lain pihak, program-program bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya.

Alangkah lebih baik apabila dana-dana bantuan tersebut langsung digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti dibebaskannya biaya sekolah, seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), serta dibebaskannya biaya- biaya pengobatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).

Berita Terkait: 👉  Bupati Taput Hadiri Penutupan Program USAID PRIORITAS.

Disela sela gemertaknya alat tenun,Wijiani (39) tersentak kaget dengan kehadiran Tim MONALISA,janda beranak tiga ini mempersilahkan masuk kedalam gubug reot dan miring tepat dibantaran sungai kecil saluran irigasi pertanian masyarakat,dinding tepas berlantai semen yang sudah pecah,kondisi tempat tinggal wijiani beserta ibu dan tiga anaknya ini tanpak sangat memprihatinkan,dinding belakang hanya tertutup dengan biner spanduk yang sudah lapuk dan sobek.

Wijiani,dengan wajah senduh dan tak pernah tersentuh mekup dengan suara serak menghentikan pekerjaan sesaat .Pekerjaan sebagai penenun telah ditekuninya selama tujuh tahun sejak ditinggal pergi suami ayah ketiga anak anaknya.Dia mulai bekerja seperti tak mengenal lelah untuk menghidupi ketiga anak dan orang tuanya.Mulai menenun,cuci/gosok dan buruh tani masyarakat petani Karang Bangun Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.

Dari sehelai benang dirajut,menjadi Ulos,Wijiani menerima upah Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu,untuk hidup sehari harinya.Kegigihan dirinya patut menjadi contoh kaum hawa,sebagai seorang ibu yang ingin anak anaknya kelak menjadi orang berguna untuk mengecap pendidikan hingga sarjana,wiji tidak pernah menolak tawaran kerja apapun untuk biaya hidup keluarganya.

Dengan berurai airmata,wijianti menceritakan  bagaimana dia harus berjuang dan bertahan hidup untuk membiayai keluarga tercintanya,” Kalau tenunan,upah yang saya terima Rp 5.500 perhelai,paling banter bisa dapat tiga atau empat potong.Untuk tambahan saya juga cuci gosok dirumah warga,dan buruh tani pada musim tanam dan panen.Mudah mudahan rezeki masih terus mengalir dan bisa menyekolahkan anak anak sampai tinggi dan menjadi orang sukses.” Ujar wijiani,walau penghasilan dibawah upah rat rata,impian dirinya untuk menyekolahkan anak anaknya tak pernah putus. sambil menghapus air mata, dia tetap berharap kepada tuhan apa yang dilakukannya hari ini menjadi yang terbaik buat diri dan keluarganya kelak.

Berlinang air mata,wanita gigih dan perkasa ini masih memberi kesempatan kepada monalisa menanyakan kondisi dirinya hingga bisa bertahan hidup,apa lagi tempat tinggalnya yang kadang kala bisa membahayakan nyawa dan anak anaknya,seperti sekarang ini curah hujan yang begitu tinggi sewaktu waktu debit air sungai meningkat dan menyeret gubug reot tempat dirinya dan anak anaknya berteduh.

“Ini rumah kami,inilah istana kami,mau tidak mau suka tidak suka,kami harus berjuang kuat untuk hidup demi anak dan keluarga kami.Semoga tuhan akan membantu umatnya yang lemah.Intinya kami harus dapat bertahan walaupun sedikit yang kami dapat tapi itu sangat berarti bagi hidup kehidupan kami.” ujarnya.

Sudah menjadi harapan dan keinginan setiap manusia, khususnya muslim untuk selalu mendapat pertolongan dan bantuan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Bantuan mendapatkan kesembuhan dan kesehatan dikala seseorang sedang sakit. Bantuan mendapatkan rizki cukup diwaktu ia ditimpa kefakiran dan kemiskinan. Bantuan mendapatkan ilmu dan pengetahuan dikala ia tidak tahu dan dalam kebodohan. Bantuan mendapatkan keamanan dan kenyamanan disaat ia dihinggapi rasa takut dan kekhawatiran, dan lain sebagainya.

Berita Terkait: 👉  Akhir Penantian Panjang,Agus Suheri dan Mhd Efendi, Melalui Sidang Paripurna Istimewa Resmi Dilantik Sebagai Anggota DPRD Kota Pematangsiantar

Namun mendapat pertolongan dan bantuan dari Allah ta’ala itu tidak sesuai dengan kehendak manusia. Sebab Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menetapkan terwujudnya pertolongan-Nya itu dengan suatu syarat yakni orang tersebut juga selalu bersedia menolong saudaranya.

Yakni siapapun hamba muslim yang memberikan bantuan dan pertolongan kepada saudaranya dalam kebaikan dan ketakwaan berupa bantuan makanan, pakaian, harta, ilmu, tenaga dan pengobatan untuknya. Atau menjaga dan membela kemuliaannya, memberi tausiyah dan semangat baginya, memberi biaya pendidikan bagi anak-anaknya, dan selainnya maka Allah Azza wa Jalla kelak akan membalas kebaikannya dengan bentuk memberi bantuan untuknya pada saat ia sangat membutuhkan bantuan dari-Nya. Atau Allah ta’ala akan membantunya kelak disaat ia butuh pertolongan dari-Nya di alam barzakh dari fitnah dan adzab kubur atau pada hari kiamat dari berbagai kesulitan dan adzab neraka.

Setelah melalui perjalan panjang,kali ini Tim Monalisa menelusuri Nagori Naga Dolok dan Dolok Maraja Kecamatan Tapian Dolok,kedua nagori yang bertetangga ini masih ada masyarakatnya hidup dibawah garis kemiskinan.

Lensa Monalisa tertuju kepada rumah,kalau itu bisa disebut rumah,bayangkan pembaca Mariamah Br Saragih (85) janda tua ini puluhan tahun hidup dirumah yang berantakan dengan dinding tepas dan seng yang sebahagiannya  telah roboh dan usang.

Ruangan beralaskan tanah,perabot masak hitam dan kusam berserakan diruangan tamu merangkap dapur ,dipan beralas tikar sebagai tempat tidur janda yang sudah lelah dalam mengharungi hidup ini.Sangat miris pemandangan didalam gubug reot tersebut.

Mariamah Br Saragih yang telah lanjut usia ini sudah tidak lagi mengenali orang orang disekitarnya,termasuk putri kandungnya Nurtani Purba (54).Ibu dan anak ini hidup bertetangga dengan putri kandungnya,walau tempat tinggal Nurtani rumah kecil  berdinding tepas masih jauh dibilang layak ketimbang tempat tinggal milik ibunya.

Kondisi yang sama juga mendera keluarga  Sepi (64) warga Nagori Dolok Ilir I Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun Sumatera Utara,janda ini harus hidup bersama  dua anaknya yang telah bekeluarga dan cucu dirumah tepas milik almarhum suaminya.

Ibu Sepi diusianya yang semangkin senja ini,belum pernah merasakan bagaimana hidup senang dan berkecukupan seperti ibu-ibu seusianya didesa tempatnya tinggal.untuk menunjung ekonomi keluarga,Sepi meyerut  lidi kelapa sawit hingga sore yang hasilnya setelah dijual hanya Rp 15.000.- hasil ini dapat dicapai ketika musim panas dan bahan mudah didapat.

“Kalau hujan ,mau sampai tiga hari,baru dapat bahan lidi untuk diserut,uang yang ada di hemat hemat.Untuk kami yang tinggal dirumah ini ada tiga keluarga,kalau dibilang cukup!.. ya!.,masih bisa makan juga dengan penghasilan seperti ini.”ujarnya.

Sementara itu Irmawati yang telah sepuluh tahun pisah dengan suaminya,juga harus kerja keras,untuk membiayai hidup keluarga dan pendidikan anaknya Putri Dwiwardani Kelas VII Alwasliyah II Serbelawan dan putranya.Sebagai seorang buruh lepas diperkebunan nusantara IV Dolok Ilir hanya bisa menerima honor 15-30 ribu setiap harinya.

“ Sebagai tenaga BHL Perkebunan apalah yang bisa didapat,kalau hanya setengah hari kerja paling banter baru dapat Rp.25.000.-honor inilah sebagai modal hidup kami setiap harinya,walau sakit memang hidup ini.tapi kami tetap bisa hidup.”ujar Irma dengan wajah yang sendu.

Berita Terkait: 👉  Burberry is the first brand to get an Apple Music channel

Irma sebagai ibu kedua anaknya tidak pernah mengeluh,walau suami tercinta,bapak dari kedua anak anaknya telah mensia siakan hidupnya.Selain sebagai tenaga BHL diperkebunan ,sore harinya Irma dengan Putri anak yang sedang menanjak dewasa ini.mencari tambahan dengan memetik sayur genjer di lokasi perkebunan dan hasilnya dapat menambah biaya sekolah putri.

“ Tadi sebenarnya sudah mau pergi ,karena ada keluarga ga jadi,kalau hasilnya dijual di pasar,walau sedikit tapi sangat berarti buat keluarga kami.”ujar irma.Dia juga berharap kepada pemerintah melalui Pangulu agar dapat membantu kami,seperti bantuan ternak agar bisa dapat dikembangkan dan menjadi penompang hidup kami pada masa mendatang.

”Paling tidak anak saya ini bisa tamat SMA sederajat,tidak seperti ibunya putus sekolah.Kami sangat berharap agar anak saya ini dapat bantuan pendidikan melalui pemerintah seperti bea siswa karena pernah cerita teman saya di pekan beberapa waktu lalu,Bupati JR Saragih itu baik orangnya mudah memberi bantuan kepada orang seperti kami ini,ya mungkin dengan kehadiran bapak informasi ini bisa nyampe kebeliau,itu harapan kami.” Ujar irma dengan suara bergetar.

Kepala Nagori Dolok Ilir I Judiman membenarkan bahwa didaerah masih ada keluarga pra sejahtera,”Memang tidak kita pungkiri masih ada beberapa keluarga pra sejatera di desa ini,masing masing keluarga hanya berpenghasilan antara 15 sampai 25 ribu/harinya kalau untuk saat ini uang segitu tidak ada artinya.tapi mereka sudah hidup puluhan tahun.Untuk keluarga pra sejahtera ini juga suda kita data dan laporkan.” Ujar Judiman.

Sebagai pamong Judiman tidak tinggal diam melihat warganya dalam kondisi sangat memprihatinkan,upaya gotong royong sebagai budaya kearifan lokal kita sudah lakukan dan ada beberapa warga masyarakat yang rumahnya tidak layak huni,kita bantu melalui swadaya masyarakat,” Kalau untuk tempat tinggal sudah dikatakan layak ,masyarakat  juga memberi bantuan pangan untuk setiap harinya kepada mereka yang kurang mampu ekonominya.Kita terus berupaya,mungkin kedepan dengan adanya pemberdayaan masyarakat desa melalui unit usaha yang akan kita kelola melalui BUM Des,kita dapat menampung tenaga kerja masyarakat yang kurang mampu ekonomi keluarganya seperti mereka ini.” Terangnya.

Kita berkeyakinan ,usaha yang sedang kita kelola melalui BUM Des dengan budidaya bibit  ikan lele ini salah satu prospek usaha yang bakal berkembang dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat kurang mampu termasuk penggemukan ternak .” Mudah mudahan program ini segera terwujud dengan digelontorkannya Dana Desa tahun anggaran 2017 yang sebentar lagi akan kita kelola bersama,” ujar Judiman.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here