Terkait Pembunuhan Sadis Diatas Kapal Perairan Mursala Tapteng, Usai Membunuh 2 Orang Pelaku Lalu “Bunuh Diri” 12 Saksi Sama Keterangannya

0
380 views
Kasat Polair Sibolga AKP Jalanak saat memberikan keterangan persnya kepada media

Oleh: Syarifuddin Simatupang

MONALISA |- Sebanyak 12 orang saksi telah memberikan keterangan kepada pemeriksa dari petugas Satuan Polisi Air (Sat Polair) Polres Sibolga terkait kejadian usai membunuh 2 orang, lalu pelaku “bunuh diri” diatas kapal Wira Glory dari Sibolga menuju Pulau Nias.Tepatnya diperairan laut Pulau Mursala Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Prov- Sumatera Utara, Rabu (20/12-2017) sekitar pukul 01.00Wib yang lalu.

Keterangan kesaksian ke-12 orang itu sama, mengatakan bahwa Demazatulo (56) secara membabi buta melakukan pembantaian terhadap 2 korban yang meninggal dunia dan 1 korban luka. Selanjutnya, Demazatulo bunuh diri setelah personel Angkatan Laut (AL) melumpuhkannya.

Kapolres Kota Sibolga Prov- Sumatera Utara, AKBP Edwin Hatorangan Hariandja, melalui Kasat Polair Sibolga AKP Jalanak dalam keterangan persnya, Jumat (5/1) menerangkan, yang pertama kali melihat kejadian tersebut adalah Yupiter, salah seorang penumpang yang saat itu hendak buang air kecil ke kamar mandi. Tanpa sengaja, dia melihat Demazatulo telah menarik kerah baju Peringatan Nduru (25) yang saat itu sedang tertidur.

“12 saksi sudah kita periksa. Salah satunya adalah Yupiter. Dia (Yupiter) waktu itu mau kencing di lantai II. Waktu ke kamar mandi, di dalam masih ada orang, jadi dia terpaksa menunggu. Disitulah dia melihat Demazatulo sedang berada di samping Peringatan Nduru, sedang menarik kerah bajunya. Demazatulo melihat ada pisau di saku celana Peringatan dan mengambilnya, lalu ditikamkannya ke tubuh Peringatan”. kata AKP Jalanak.

Lebih lanjut AKP Jalanak menjelaskan, setelah menikam Peringatan, Demazatulo baru sadar kalau perbuatannya tersebut disaksikan oleh Yupiter. Kemudian, Demazatulo berusaha mengejar Yupiter untuk menghabisinya. Melihat Demazatulo yang datang mendekat, dia pun lari. Hingga akhirnya dia tersudut di dekat tangga kapal.

Berita Terkait: 👉  Pemko Revisi Rancana Tata Ruang Wilayah Kota Pematangsiantar Tahun 2012-2023

“Rupanya jalan buntu, tidak bisa lari kemana-mana dia. Akhirnya, dia (Yupiter) melompat ke lantai I. Yupiter jatuh tepat menimpa Odalige Harefa yang sedang tidur. Yupiter berusaha bangun dan lari menghindar dari kejaran Demazatulo”. jelas Jalanak.

Saat itu Odalige terbangun, lanjut AKP Jalanak. Tiba-tiba saja Demazatulo menyabet lehernya dengan pisau yang dipegangnya. “Yupiter langsung kabur. Waktu Odalige mau bangun, Demazatulo datang dan menyabetkan pisau ke leher sebelah kiri Odalige”. jelasnya.

Tak sampai di situ, terang AKP Jalanak, Demazatulo masih terus mengejar Yupiter. Di dekat kamar mesin, Demazatulo bertemu dengan masinis kapal, Anugrah Zebua, yang saat itu sedang patroli jaga malam dan mencoba melerai perkelahian keduanya. Tanpa tanya, Demazatulo langsung menikam bagian dada sebelah kiri Anugrah Zebua.

“Dilerai, ternyata langsung ditusuk. Waktu itu Anugrah belum meninggal. Tapi, dari hasil pemeriksaan tampaknya Anugrah sempat melakukan perlawanan. Karena ditemukan luka pada jempol kakinya. Dia meninggal dalam perjalanan waktu kapal dalam perjalanan balik ke Sibolga”. terangnya.

Masih menurut Kasat Polair Sibolga AKP Jalanak, melihat kejadian tersebut, Odalige segera naik ke lantai II untuk meminta pertolongan ke bagian anjungan kapal. Di perjalanan, Odalige bertemu dengan perosnel AL, Sersan Satu (Sertu) Robert. Sertu Robert kemudian turun ke lantai I dan melihat Demazatulo sedang mengamuk sambil memegang pisau.

“Sertu Robert kemudian mengimbau Demazatulo agar menyerah. Tapi Demazatulo tidak mau menyerah. Lalu, salah seorang ABK kapal bernama Ronal mengambil sebatang besi dan melemparkannya ke arah Demazatulo. Besi itu kemudian diambil Demazatulo dan dijadikan alat”.

“Melihat kondisi yang tidak memungkinkan, karena pada saat itu Sertu Robert tidak membawa senjata. Sertu Robert kemudian lari ke atas (lantai II) mengambil senjata. Sebelum naik ke atas, Demazatulo juga berusaha menyerang Sertu Robert, hingga tangannya memar menahan besi yang disorongkan Demazatulo”. sebut AKP Jalanak.

Berita Terkait: 👉  Deklarasi Pilpanag Wilayah hukum Polsek Bangun

Belum sampai di anjungan, sebut Jalanak lagi, Sertu Robert bertemu dengan rekannya Serda Zainuddin Bakri yang saat itu sedang menyandang senjata. Dia lantas meminta senjata tersebut dan mendatangi Demazatulo.

Awalnya, Sertu Robert memperingati Demazatulo agar menyerahkan diri sambil menakutinya dengan senjata. Bukannya menyerah, Demazatulo malah semakin beringas. Kemudian, Sertu Robert memberikan 3 kali tembakan peringatan ke arah rongga-rongga kapal.

Karena tetap melawan, Demazatulo akhirnya dilumpuhkan. Diperingati, malah makin brutal. dikasihlah tembakan untuk melumpuhkannya.”Mungkin karena sudah nggak sanggup lagi melawan, dia akhirnya menggorok lehernya sendiri sambil komat-kamit, nggak tahu apa yang dibilang. Pisau itu kemudian dilempar, masuk lubang kapal dan jatuh keluar”. kata Jalanak menirukan keterangan saksi.

Pernyataan yang sama juga diterangkan saksi lainnya, Odalige dan personel AL, bahwa pelaku adalah Demazatulo. Berdasarkan keterangan saksi-saksi tersebut, pihak Polres Sibolga akan segera melakukan gelar perkara untuk membuat hasil proses lanjutan.

“Bila ternyata hasilnya sama dengan keterangan para saksi, maka kasus tersebut kemungkinan akan di-SP3. “Jika memang nanti sudah terbukti bahwa Demazatulo sebagai pelaku, kasus ini akan di-SP3-kan”. tandas AKP Jalanak.

Sekedar mengingatkan, dari pemberitaan Monalisa lalu, salah seorang keluarga dekat Demazatulo mengaku menolak, bila keluarganya tersebut ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Sebab, mereka merasa ada kejanggalan dalam insiden berdarah yang terjadi diatas kapal Wira Glory.

“Sebelum kejadian, Demazatulo sempat menelepon istrinya yang ada di Nias, dan memberitahukan bahwa dirinya saat itu sedang dikelilingi 6 orang warga Kecamatan Hili Dano Otane, yang bertetangga dengan kecamatan mereka, yakni Lahusa”.

Pihak keluarga mengaitkannya dengan kasus pembunuhan yang pernah terjadi sekitar April 2017, dengan melibatkan Demazatulo dan beberapa orang keluarganya. Dalam kejadian yang dilatarbelakangi persoalan tanah tersebut.”Seorang warga Hili Dano Otane meninggal dunia. Keluarga korban yang tidak terima lantas mengancam akan mencari Demazatulo dan keluarganya untuk dihabisi”.

Berita Terkait: 👉  Demokrat Simalungun Resmi Mendaftar Calon Peserta Pemilu 2019

Ternyata, dari informasi yang diterima, Demazatulo hampir 1 tahun berada di perantauan. Dan keberadaannya di kapal tersebut untuk pulang kampung merayakan Natal dan Tahun Baru dengan istri dan anak-anaknya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here