Alfamart dan Indomaret Ganti Mata Uang Rupiah Dengan “Permen” (Bag II)

0
881 views

“Mengganti uang dengan permen juga melanggar Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dengan ancaman maksimal dua tahun penjara dan denda maksimal Rp 5 miliar”

Oleh Redaksi

MEDIA BERITA MONALISA | SIANTAR | – Pernahkah Anda mendapatkan kembalian dalam bentuk permen oleh pedagang alasannya karena si pedagang tidak punya stok uang receh? Satu dua kali mungkin tidak mengapa, tetapi kalau keseringan benar-benar membuat jengkel. Apalagi Anda tidak butuh permen dan permen kembalian ternyata tidak laku kalau digunakan untuk membayar di ritel yang sama.
Kesal diperlakukan semena-mena oleh ulah karyawan Alfamart dan Indomaret yang suka mengganti uang kembalian dengan permen? Kini Anda bisa memaksa si teler untuk mengembalikan kembalian Anda utuh, kalau karyawan kedua perusahaan tersebut tak mau masuk bui.
Berita Terkait: 👉  Dua Mantan Pangulu Bersaing Ketat
Perlakuan nakal karyawan Alfamart dan Indomaret tersebut telah menuai protes dari berbagai elemen masyarakat, salah satunya anggota DPRD Simalungun Hendra S Sinaga, berbagi pengalaman kepada Media Berita Monalisa , Minggu 7 Juli 2019 berkisar pukul 12.44 Wib setelah tayangnya berita terkait adanya mata uang rupiah diganti dengan permen.

 

Melalui pesan Whatsapp yang dikirimkan kemeja redaksi, Hendra mengatakan, Setelah membaca berita Media Berita Monalisa, menurutnya sangat menarik dan mempertanyakan kepada karyawan  indomart dan alfamart mengenai donasi uang recehan yang di donasikan konsumen apabila kembalian uang kecil tidak ada.
” Ini sangat menarik dan menjadi perhatian aparat kerpolisian untuk melakukan penyidikan. kemana bantuan donasi tersebut di salurkan, karna pihak perusahaan (karyawan) tidak pernah memberikan penjelasan secara rinci kemana donasi tersebut disumbangkan..Lantas kita yang donasi. kok, perusahaan tidak memberitahu kemana donasi itu diberikan. Inikan namanya pembodohan,” ujarnya.

 

Lanjutnya, perusahaan nasional  seperti indomaret dan alfamaret, tidak memiliki koin kembalian. kita semua tau, sebagai pasar modern dan bukan perusahaan abal-abal tidak selayaknya dalam setiap  kembalian  konsumen diganti permen. perusahaan sudah seharus siap menyediakan uang koin kembalian.
“Jangan jangan ini trik pihak perusahaan meraup keuntungan dengan alasan tidak ada uang kembalian di ganti permen. donasi yang diberikan oleh konsumen karena keterpaksaan dan malas berlama-lama ataupun ribut dengan karyawan (teller).” ungkapnya.
“Saya pernah pertanyakan kalau uang yang di ganti permen, bisa ga’ dipakai sebagai alat tukar atau pembayaran di tempat yang sama.” kasir beralasan tidak ada kembalian..kemudian di suruhnya untuk berdonasi dengan  jawaban sama karna tidak ada pengembalian kita tanya kemana di salurkan donasinya mereka tidak bisa menjawab,” jelas politis dari Partai Persatuan Pembangun Kabupaten Simalungun ini.
Sebagai Anggota DPRD Simalungun, Hendra meminta dengan tegas, sebelum sanksi diberikan kita berharap Pihak Bank Indonesia memberikan sanksi berupa admistrasi kepada perusahaan yang nakal tersebut, sebelum adanya sanksi pidana. karna kita belum tau ini pihak perusaahaan apakah sudah mengetahui ataupun belum mengenai UU BI Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dan apakah perusahaan  sudah mensosialisasikannya terhadap karyawan,’ pungkasnya.
Perlu diketahui pembaca, bahwa dalam  Pasal 23 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, disebutkan bahwa setiap orang dilarang menolak untuk menerima Rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran atau untuk menyelesaikan kewajiban yang harus dipenuhi dengan Rupiah dan/atau untuk transaksi keuangan lainnya di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, kecuali karena terdapat keraguan atas keaslian Rupiah.
Selanjutnya dalam Pasal 33 ayat (1) UU Mata Uang juga menyebutkan Setiap orang yang tidak menggunakan Rupiah dalam setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran; penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang; dan/atau transaksi keuangan lainnya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Selain itu, mengganti uang dengan permen juga melanggar Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dengan ancaman maksimal dua tahun penjara dan denda maksimal Rp 5 miliar.(*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here