Hilangnya Kemerdekaan Ditanah Sendiri, Memecah Batu Untuk Mengkais Rupiah

0
287 views

Oleh: Syarifuddin Simatupang

Monalisanews | Tapteng | – Hanya dengan menggunakan sebatang linggis besi ukuran  lebih kurang 150 cm dan kayu bakar Poltak Naibaho (54), dibantu Oda Jaluhu (22),memecah batu demi mendapatkan rupiah,  demi kebutuhan hidup keluarga.

Sebagai penambang Batu pecah, Poltak Naibaho (54),dan Oda Jaluhu (22) hanya mengunakan alat sederhana dan manual.Batu sungai sebesar anak lembu dubakar dengan kayu hingga retak dan menemukan urat batu sehingga mudah dongkel dengan sebagatng besi (linggis), batu sungai yang sudah pecah mereka cincang dengan alat seadanya.Untuk mencapai satu truck ( sebanyak 2,5 kubik) batu pecah mereka harus bekerja empat hari diteriknya matari.dengan hasil Rp 270 ribu.

Membakar dan mencungkil batu besar di sungai Sihaporas ini sudah cukup lama ditekuni Poltak Naibaho warga lingkungan I Kelurahan Suhaporas Nauli Kecamatan Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) ditekuninya sudah cukup lama.Pekerjaan ini sejak tahun 1997 sudah dia lakoni karena tidak ada pekerjaan yang lain. Memecah batu dia kerjakan sejak kehadiran Perusahaan Listrik Tenaga Air (PLTA) Power Station (PS) 2 Sipan Sihaporas dikampung itu.

Kata Poltak, sejak orang tuanya menerima uang sebesar Rp 70juta, sebagai ganti rugi dari seluas 2 hektare tanah milik orang  tuanya almarhum Ratiame boru Simatupang. Poltak-pun tidak memiliki sumber penghasilan lagi untuk menyambung hidup anak dan keluarganya. Satu satunya dia kerjakan memecah batu, hasilnya dia jual untuk mendapatkan uang.

“Sebenarnya aku sudah bosan dan capek menggeluti pekerjaan ini. Tetapi pekerjaan apa yang aku geluti untuk menghidupi 3 putri dan 1 putra. Sedangkan kebun karet seluas 2 hektare milik orang tua saya, sudah dihibahkan kepada PLTA Sipan Sihaporasa untuk lokasi PS 2 ini”. ujar Poltak seraya menunjukkan lokasi pembangkit listrik dua.

Berita Terkait: 👉  Temu Karya/ Musda Karang Taruna Simalungun digelar 3 Oktober 2017

Poltak menuturkan, pagi hari jika cuaca cerah, sekira pukul 8.00 wib, Poltak dibantu Oda Jaluku mengangkut potongan batang kayu ke tumpukan batu di sungai, dan menyalakan api membakar batu. Perlahan lahan Poltak dan Oda menumbukkan linggis untuk memecah batu.

“Bila cuaca bagus, aktivitas PLTA istirahat kami pun turun kesungai untuk memecah batu dengan membakar lebih dulu, lalu kami tumbuk dengan linggis ini”. tukas Poltak seraya menunjukkan linggisnya.

Perlahan lahan batu besar yang kami pecah selama 4 (empat) hari dapat terkumpul 2,5 kubik untuk ukuran 1 truc Colt Diesel, hasil penjualannya diterima Poltak Rp 270.000,-

“Dengan penghasilan 270 ribu selama 4 hari. Itulah kami bagi berdua, untuk Oda 120 ribu, sama aku 150 ribu. Meski aku ini dari keluarga penghibah tanah untuk lokasi PLTA ini, tetapi tenaga kami tidak ada dipakai perusahaan, baik menjadi buruh kasar untuk sumber penghasilan sebagai pengganti ladang yang sudah  menjadi milik perusahaan itu”. tandas Poltak miris, seraya berharap hendaknya pihak perusahaan memakai tenaga keluarga penghibah tanah dipekerjakan.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here