Hasil Investigasi KNKT Ungkap Penyebab Tenggelamnya KM Sinar Bangun

0
83 views

Oleh Redaksi

MONALISANEWS | PEMATANG RAYA | – Setelah lebih kurang dua bulan pasca tenggelamnya KM Sinar Bangun pada Senin 18 Juni 2018 lalu,Akhirnya Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) mengungkap 19 item temuan pelanggaran pelayaran yang mengakibatkan ratusan orang tenggelam dan meninggal di perairan Danau Toba, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

“Secara kasat mata sudah diketahui khalayak umum, namun hal ini perlu kami ungkap dan menjadi pelajaran berharga agar kedepan seluruh stakeholder agar benar benar menyikapi dengan baik regulasi keselamatan tranportasi angkutan danau,” kata Plt Kasubkom Pelayanan KNKT, Haryo Satmiko pada media release di Balei Harungguan Djabanten Damanik, Pamatang Raya, Simalungun, Selasa.

Haryo Satmiko dalam paparannya menjelaskan, Bahwa pada  Senin 18 Juni 2018 sekitar pukul 16.00 WIB, KM Sinar Bangun bersiap untuk bertolak dari Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir menuju Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun.

Embarkasi Penumpang dan pemuatan sepeda motor dimulai. Sepeda motor ditempatkan di Geladak 1 bagian dalam dan luar, Penumpang ditempatkan di dalam geladak 2 dan geladak terbuka dek 3.Pukul 16.50 WIB kapal bertolak dari Pelabuhan Simanindo menuju Tigaras.

Sekitar pukul 17.10 WIB terjadi perubahan cuaca, angin kencang dan gelombang sekitar 1,5-2 meter menghantam lambung kiri Sinar Bangun menyebabkan kapal oleng ke kanan dan terbalik.

Penumpang terbagi dua kelompok, kelompok pertama berada di Lambung dan lunas kapal, kelompok kedua terapung disekitar  KM Sinar Bangun dengan mengandalkan benda terapung misalnya potongan kayu dan helm.

Beberapa saat kemudian, ombak besar kembali datang dan menyapu semua penumpang yang ada di atas lambung dan lunas kapal. Setelah itu, bagian kapal tidak terlihat lagi

Pada saat bersamaan jelas Haryo Satmiko, kapal penyeberangan Roll-On Roll-Off penumpang (Ro-Ro Pax) Sumut II yang sedang berlayar dari Pelabuhan Simanindo menuju Pelabuhan Tigaras membantu proses evakuasi penyintas Sinar Bangun 4 dengan melemparkan lifebuoy dengan tali dan jaket penolong.

“Sumut II berhasil menyelamatkan 3 orang dan melanjutkan perjalanan ke Tigaras untuk menurunkan penumpang dan kendaraan,” jelasnya.

Masih dijelaskan Plt Kasubkom Pelayanan KNKT dihadapan media,Bahwa pertolongan kemudian dilanjutkan sekitar 15 menit oleh beberapa kapal yang kebetulan berada di dekat Sinar Bangun 4, yaitu Sumut I (sejenis Sumut II) dan Cinta Dame II (sejenis Sinar Bangun 4). Cinta Dame II berhasil menyelamatkan empat belas penyintas, sedangkan Sumut I berhasil menyelamatkan satu penyintas dan satu korban meninggal.’ungkapnya pada saat dilaksanakan Media Release “mengungkap penyebab tenggelamnya KM Sinar Bangun di Perairan Danau Toba.

Selanjutnya,Pos BNPP Parapat menerima laporan kecelakaan dari masyarkat sekitar pukul 17.40 WIB. Dua puluh menit kemudian, tim penolong sudah bertolak menuju lokasi kejadian.

Sekitar pukul 18.45 WIB tim BNPP bersama Kepolisian Perairan dan masyarakat setempat membantu proses evakuasi.

“Dari hasil evakuasi dan pencarian, sebanyak 19 penyintas berhasil diselamatkan (termasuk Nakhoda dan kernet) dan 3 jenazah berhasil ditemukan,164 orang dilaporkan hilang. Jumlah ini adalah hasil verifikasi antara BNPP dan Jasa Raharja.Korban Meninggal 3 orang,Hilang 164 orang dan yang selamat    19 orang ditambah awak kapal 2 orang.Jumlah yang selamat 21 orang,” jelasnya.

Menurut KNKT,KM Sinar Bangun berukuran: 18 x 5.5 x 1.85 m,Tonase Kotor : 35 GT diproduksi tahun  : 2013 dengan Bahan Dasar : Kayu,Kapasitas muat : 45 Pax Jumlah Awak           : 3 orang Operator: Perorangan,Mesin: Mitsubishi 6 Silinder, daya 190 PS (187 HP).

Dari Hasil Analisis Stabilitas Komite Nasional Keselamatan Transportasi Berdasarkan Pengaruh Gelombang,bahwa muatan motor di seluruh sisi kapal, buritan dan haluan, penumpang terbagi di geladak 1, 2 dan 3 dengan perbandingan distribusi penumpang 10:60:30 (Dalam %).

Hasil Skenario 2 jelas Haryo ,Muatan motor di seluruh sisi kapal, buritan dan haluan, penumpang terbagi di geladak 1 dan 2 dengan perbandingan distribusi penumpang 10:90 (Dalam %).

Berita Terkait: 👉  Surat Terbuka Buat Presiden .... “Selamatkan Kemerdekaan Pers Indonesia”

Sementara hasil Skenario 3: Muatan motor di seluruh sisi kapal, buritan dan haluan, penumpang terbagi di geladak 2 dan 3 dengan perbandingan distribusi penumpang 60:40 (Dalam %).

Dari hasil Analisis Stabilitas Berdasarkan Pengaruh Angin KNKT menyimpulkan, telah terjadi gelombang  diperairan danau toba setinggi 1m ~ 1.25 m.Akibatnya kapal KM. Sinar Bangun 4 mengalami rolling maksimum sebesar 37.11⁰ pada frequensi gelombang 0.67 rad/s.sudut capsize adalah 32.47⁰ sehingga kapal kapal terbalik (capsize).

Tidak hanya itu KNKT juga membuat Pemodelan Grafis Kapal untuk mendapatkan hasil perhitungan yang akurat.

KNKT menggunakan perangkat pemodelan MAXSURF dalam melakukan simulasi dimaksud.Pemodelan lambung kapal didasarkan pada foto kapal Sinar Bangun 4. Tim investigasi juga melakukan pemeriksaan dan pengukuran ulang terhadap kapal serupa dengan Sinar Bangun 4 untuk dijadikan dasar model grafis di MAXSURF V8,” jelas Haryo menambahkan.

Berdasarkan hasil analisis terhadap data dan informasi yang didapatkan dalam proses investigasi, tenggelamnya kapal Sinar Bangun 4 di perairan Danau Toba sekitar pelabuhan Tigaras, Sumatera Utara pada tanggal 18 Juli 2018 diakibatkan oleh jumlah penumpang dan kendaraan yang jauh melebihi kemampuan kapal, serta penempatan posisi penumpang dan motor di sisi kanan kiri kapal dan penumpang digeladak tiga.

Kondisi ini menyebabkan stabilitas kapal menjadi sangat kritis sesuai dengan hasil analisa modeling komputer, maka keadaan tersebut mengakibatkan kapal terbalik ketika terkena gelombang yang terjadi saat itu.

Akibatnya,Sebagian besar penumpang tidak dapat bertahan hidup dikarenakan akses keluar yang terbatas dan akses terhadap peralatan keselamatan atau life Jacket yang tidak sempat dipakai!..ungkap Haryo.

Selain itu KNKT juga menyiasati adanya Faktor Kontribusi,bahwa jumlah penumpang berlebihan (sebagian penumpang berada di geladak 3) dan sepeda motor menyebabkan titik berat kapal menjadi semakin ke atas, sehingga momen penegak/pengembali semakin kecil.Selain itu Nahkoda tidak memperhatikan faktor cuaca dalam pelayarannya.

Yang perlu menjadi perhatian bahwa pintu darurat kapal tidak memenuhi syarat dan juga pintu-pintu kapal terhalang oleh sepeda motor akibatnya penumpang tidak leluasa untuk keluar menyelamatkan diri.ujarnya.

Jumlah life jacket yang kurang dari jumlah penumpang, serta peletakanya yang sulit dijangkau oleh penumpang.Tidak adanya fungsi kesyahbandaran sebagai pengawas keselamatan pelayaran.

Faktor kontribusi adalah sesuatu yang mungkin menjadi penyebab kejadian. Dalam hal ini semua tindakan, kelalaian, kondisi atau keadaan yang jika dihilangkan atau dihindari maka kejadian dapat dicegah atau dampaknya dapat dikurangi.’ungkap Plt Kasubkom Pelayanan KNKT.

Media Release yang disampaikan Haryo Satmiko berkaitan dengan Informasi Cuaca,Sebelumnya telah ada Peringatan Dini Cuaca Sumut tgl. 18 Juni 2018, pkl. 13.30 WIB. Berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada pukul 14.00 WIB dengan daerah yang terimbas: Wilayah Langkat, Simalungun, Deli Serdang, P. siantar. Dan dapat meluas ke Wilayah Tobasa, Asahan, Karo, Sergei, T. Tinggi, Medan, Binjai, Samosir, Taput, Humbahas, Dairi, Labura, Labuhanbatu, dan sekitarnya. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pukul 17.00 WIB.

Update Peringatan Dini Cuaca Sumut tgl. 18 Juni 2018, pkl. 16.30 WIB menurut hasil investigasi KNKT. Masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada pkl. 17.00 WIB dengan daerah yang terdampak: Wilayah Sergai, Tobasa, Langkat, Binjai, Simalungun, Deli Serdang, Medan, Asahan, Karo, Dairi, Labura. Dan dapat meluas ke Wilayah Batubara, T. Tinggi, Samosir, Taput, Humbahas, Labuhanbatu, Labusel, dan sekitarnya. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pukul 19.00 WIB.

Berita Terkait: 👉  IKAN PENGHUNI TELAGA SILATING MATI SAAT DI PINDAHKAN

“Peringatan Dini Cuaca Sumut tanggal 18 Juni 2018, pukul 18.30 WIB. Masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada pkl. 19.00 WIB dengan daerah yang terdampak: Wilayah Labuhanbatu, Labusel, Sergai, Tobasa, Taput, Langkat, Binjai, Simalungun, P. Siantar, Deli Serdang, Medan, Asahan, Tj. Balai, Karo, Dairi, Labura. Dan dapat meluas ke Wilayah Batubara, T. Tinggi, Samosir, Humbahas, Pakpak Barat, Paluta, Palas, Tapteng, Madina, Tapsel, dan sekitarnya. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pukul 22.00 WIB,” ungkap Haryo.

Dari kesimpulan kesimpulan dan investigasi KNKT terdapat 19 TEMUAN

  1. Ukuran kapal tidak sesuai dengan sertifikat kapal.
  2. Berdasarkan dokumen Kelaikan dan Kebangsaan, kapal bergeladak tunggal. Pada kenyataannya kapal memiliki 3 geladak.
  3. Berdasarkan dokumen Pendaftaran dan Kelengkapan Angkutan Danau dan Penyeberangan (ADP), kapal digunakan sebagai kapal angkutan penumpang. Pada waktu kejadian, kapal mengangkut penumpang dan sepeda motor.
  4. Berdasarkan dokumen Pendaftaran dan Kelengkapan Angkutan Danau dan Penyeberangan (ADP), kapasitas angkut penumpang sebanyak 45 orang. Berdasarkan jumlah total penumpang (selamat + meninggal + dilaporkan hilang) sejumlah 188 orang.
  5. Berdasarkan dokumen Kelaikan dan Kebangsaan, jumlah awak kapal adalah 3 orang. Pada saat kejadian kapal diawaki 2 orang.
  6. Berdasarkan dokumen Pendaftaran dan Kelengkapan ADP, kapal dilengkapi jaket penolong 50 buah orang dewasa (tanpa jaket penolong anak-anak dan bayi). Menurut awak kapal, kapal memiliki jaket penolong sebanyak sekitar 80 buah, namun diletakkan di lemari dan sebagian terikat di langit-langit kabin penumpang.
  7. Akses darurat tidak tersedia dan jendela terhalang teralis.
  8. Pada waktu kejadian penumpang tidak sempat mengenakan jaket penolong karena peristiwa terjadi begitu cepat.
  9. Awak kapal penyeberangan tidak terampil melakukan evakuasi di air
  10. Berdasarkan dokumen Kelaikan dan Kebangsaan, jenis kapal adalah kapal kayu. Pada kenyataannya, material kayu hanya digunakan pada konstruksi lambung, sedangkan gading, tiang, dan geladak sebagian menggunakan material baja.
  11. Awak kapal tidak memperhatikan informasi cuaca sebelum keberangkatan.
  12. Berdasarkan informasi penumpang dan Nakhoda di sekitar lokasi kejadian, pada saat itu terjadi angin kencang dan kondisi gelombang cukup tinggi.
  13. Pada saat kejadian, 5 kapal yang bertolak dari Tomok menuju Parapat harus kembali ke Tomok karena tidak mampu melawan arus dan angin. Hal ini menunjukkan kondisi cuaca pada kejadian tersebut berbahaya untuk pelayaran.
  14. Awak kapal tidak pernah membuat manifest penumpang dan barang. Kondisi ini telah terjadi selama bertahun-tahun sebelumnya.
  15. Tidak ada syahbandar maupun inspektur sungai dan danau sebagai fungsi pengawas keselamatan pada saat kapal hendak berlayar. Ketidakjelasan instansi yang berwenang menerbitkan SPB, keadaan ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, sehingga SPB tidak pernah diterbitkan.
  16. Nakhoda tidak pernah membuat laporan kedatangan dan keberangkatan kapal untuk dilaporkan kepada instansi penerbit SPB.
  17. Aturan kelengkapan kapal penyeberangan belum dipahami dengan baik oleh operator kapal dan instansi yang berwenang mengeluarkan sertifikat kapal. Hal ini terlihat dari tidak lengkapnya peralatan minimal maupun peralatan keselamatan kapal yang digunakan untuk mengangkut penumpang. Misalnya, jaket penolong, pintu darurat, peralatan pemadam, dll.
  18. Awak kapal tidak disyaratkan untuk melakukan pelatihan menghadapi keadaan darurat.
  19. Tidak ada radio komunikasi baik di atas kapal dan di pelabuhan.

Dari 19 item temuan yang dikeluarkan KNKT,Kementerian Perhubungan Merekomundasi

  1. Mengkaji ulang Keputusan Menteri Perhubungan nomor KM. 73 tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau yang diperbarui dengan Keputusan Menteri Perhubungan nomor KM. 58 tahun 2007, ataupun SK & SE Ditjen terkait standar keselamatan angkutan sungai dan danau agar menyesuaikan dengan peraturan yang lebih tinggi (Undang-Undang no. 23 tahun 2014).
  2. Agar ditetapkan instansi penanggung jawab penerbitan Surat Ukur, Sertifikat Kelaikan, SPB, dan pengawasan yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.
  3. Mengevaluasi ulang silabus pelatihan untuk awak kapal (SKK) dan melakukan pelatihan kepada seluruh awak kapal untuk angkutan kapal sungai, danau, dan tradisional.
  4. Menyusun prosedur penerbitan Surat Keterangan Kecakapan (SKK) untuk awak kapal angkutan sungai dan danau yang berlaku seragam secara nasional sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 2000 tentang Kepelautan pasal 46.
  5. Menunjuk instansi, membuat SOP dan menjalankan prosedur pemeriksaan tahunan terkait kelaikan kapal tradisional.
  6. Memastikan jumlah dan kompetensi awak kapal sesuai sertifikat kelaikan kapal.
  7. Pada setiap pemberangkatan kapal harus diterbitkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) oleh petugas berwenang dan memiliki kompetensi untuk menerbitkan SPB.
  8. Melarang penggunaan geladak ke-3 sebagai geladak penumpang atau barang.
  9. Melakukan pengukuran ulang, penerbitan surat ukur, dan serta setifikat lainnya oleh instansi yang telah ditetapkan Kementerian Perhubungan.
  10. Membuat peraturan menteri yang komprehensif untuk kapal sungai, danau, dan tradisional yang meliputi, antara lain:
  11. Panduan desain kapal (kayu, fiberglass, aluminium, dan baja) b. Untuk kapal >12 penumpang harus menggunakan mesin diesel;
  12. Proses pembangunan kapal.
  13. Proses sertifikasi.
  14. Pelatihan dan pengawakan.
  15. Pengoperasian dan perawatan.
  16. Melakukan pembinaan (pengaturan, pengendalian, dan pengawasan) terhadap penyelenggaraan angkutan sungai, danau, dan kapal tradisional.
  17. Menyediakan stasiun radio di pelabuhan sekitar perairan Danau Toba.
Berita Terkait: 👉  Ketum KWRI Ozzy Sudiro Angkat Bicara Soal Dugaan Munculnya KWRI "Gadungan"

Dalam pada itu,Dishub Provinsi Sumatera Utara,Membuat suatu sistem dan prosedur yang memastikan manifest penumpang dan barang terdata dengan benar.Menyusun prosedur naik turun penumpang dan melaksanakan sterilisasi pelabuhan.Melakukan sosialisasi keselamatan pelayaran secara berkala kepada masyarakat.

Operator

Melaksanakan seluruh peraturan yang ditetapkan oleh regulator.Memastikan kapal dilengkapi perlengkapan keselamatan dengan jumlah yang cukup dan dalam kondisi yang baik.Menjelaskan cara meninggalkan kapal saat kondisi darurat.Memastikan semua penumpang dan awak kapal mengenakan jaket penolong selama pelayaran.Mematuhi batasan mengangkut penumpang sesuai dengan jumlah yang diijinkan.Membuat dan melaporkan manifest penumpang kepada otoritas keselamatan terkait.Menyimpan jaket penolong di lokasi yang mudah dilihat dan dijangkau oleh penumpang.

Nakhoda harus memiliki Surat Keterangan Kecakapan (SKK).Memastikan akses keluar darurat di kapal terbebas dari halangan dan dapat digunakan tanpa hambatan.Modifikasi kapal harus dilaporkan ke otoritas keselamatan terkait.Melengkapi sarana komunikasi radio di atas kapal.

Sementara Badan Meteorologi Klimatologi & Geofisika,Memberikan informasi cuaca beserta arus perairan di sekitar pelabuhan atau dermaga setiap 3 jam.Menyampaikan informasi perubahan cuaca ekstrem atau mendadak kepada penanggung pengoperasian pelabuhan ataupun dermaga.Menyediakan informasi cuaca ekstrim dengan format yang sederhana dan mudah dimengerti oleh nahkoda pelayaran rakyat.

Diakhir acara Media Realese Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono menegaskan, pihaknya dalam melakukan penyelidikan suatu petistiwa tidak dalam posisi untuk menyalahkan pihak-pihak.”Hasil temuan tidak bisa dijadikan dasar penuntutan, ganti rugi, tetapi menjadi rekomendasi agar kejadian tidak terulang,” katanya.

Karenanya, semua pihak, Pemerintah, regulator dan pelaku bidang transportasi diharapkan secara berkesadaran menjalankan tugas dan fungsi demi keselamatan pelayaran.

Soerjanto juga menyampaikan, Pemerintah telah melakukan upaya maksimal pada proses pencarian dan penanganan serta bantuan kepada keluarga dan korban. “Semua potensi yang ada sudah diupayakan,” katanya.(*)

 

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY