‘Mamogang’  Menyambut Bulan Suci Ramadhan

0
54 views

 

Oleh: Syarifuddin Simatupang

MEDIA BERITA MONALISA | TAPTENG | – Salah satu daerah pesisir  Pantai Barat Kabupaten Tapanuli Tengah Sumatera Utara dalam menyambut bulan puasa, melaksanakan kegiatan ‘ Mamogang’ yaitu mengucapkan rasa syukur atas datangnya bulan yang penuh rahmat dan berkah itu. Warga muslim Kecamatan Barus akan menikmati makanan daging kerbau.

Mamogang artinya memakan daging untuk perbaikan gizi untuk ketahanan tubuh saat menjalankan ibadah puasa.Maka tidak sedikit kerbau atau lembu di sembelih di wilayah Tapteng umumnya, khususnya diwilayah Kecamatan Barus Tapteng menyambut datangnya Bulan Puasa.

Dua hari memasuki Bulan Suci Ramadhan 1440 Hijriah, Sabtu (04/05/2019) tidak sedikit warga mendatangi pinggiran Sungai Aek Sirahar di Desa Kampung Mudik Kecamatan Barus menyaksikan Mamagong yang dimulai sejak subuh.

Amatan awak  Media Berita Monalisa (MBM) di lokasi mamogang, rasa gembira dan keakraban terasa kental, kekeluargaan tetap terpelihara. Kerukunan antar umat beragama-pun terbina dengan baik.”Suasana mamogang ini membawa dampak positif bagi kerukunan umat beragama di kota tua Barus terpelihara bagus. Rasa persaudaraan dan rukun bertetangga tetap terbina,” sebut warga sekitar.

Menurut tokoh masyarakat kecamatan Barus, Zuardi Simanullang, Sabtu (04/05) menjelaskan, Mamogang sudah tradisi turun temurun sejak nenek moyang masyarakat Barus dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan.

“Tradisi Mamogang di Barus ini, sedikitnya 20 ekor kerbau disembelih, dagingnya habis terjual seharga Rp150 ribu per kilogram kepada warga Muslim yang akan menunaikan ibadah puasa,” sebut Zuardi.

Tampak disekitar lokasi mamogang ada yang menjual perlengkapan bumbu memasak daging. Dan perlengkapan berlimau limau terbuat dari bunga, daun,  akar yang mengandung wewangian dan jeruk purut untuk digunakan mandi keramas membersihkan tubuh disungai.

Berita Terkait: 👉  Rondang Bittang Riwayatmu Kini Sedari Dulu Hanya Seperti Ini

Warga sekitar menuturkan,  bahan limau-limau yang dibeli, atau ada yang dibuat sendiri lalu direbus dengan air secukupnya untuk digunakan sekeluarga. Kemudian disaring, airnya lalu dibawa kesungai untuk digunakan mandi keramas.

“Ber-limau limau, bahasa yang tidak asing lagi bagi warga Pantai Barat Sumut, usai mandi keramas disungai. Kemudian air limau dioleskan disekujur tubuh mulai dari rambut hingga ujung jari tangan dan ujung jari kaki agar saat melaksanakan ibadah puasa sekujur tubuh kita harum dan wangi,” ujar Sarifah,  ibu setengah baya ini.(*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here